Umum

Pesantren Mabadi’ul Ihsan Peringati HUT ke-81 RI, Tekankan Pentingnya Nasionalisme dan Pengabdian 4. HUT ke-81 Kemerdekaan RI

326
×

Pesantren Mabadi’ul Ihsan Peringati HUT ke-81 RI, Tekankan Pentingnya Nasionalisme dan Pengabdian 4. HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Sebarkan artikel ini

POSTWARTA.COM – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Yayasan Pondok Pesantren Mabadi’ul Ihsan–Daar Al Ihsan berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan, Senin (17/8/2026). Upacara Peringatan Detik Proklamasi menjadi momentum bagi keluarga besar pesantren untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa sekaligus merefleksikan tanggung jawab generasi hari ini terhadap masa depan Indonesia.

Upacara tersebut dihadiri Pembina Yayasan Pondok Pesantren Mabadi’ul Ihsan–Daar Al Ihsan, KH Abdullah Azwar Anas, yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) RI periode 2022–2024.

Hadir pula Habib Zain bin Hasan Baharun, Pimpinan Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (Dalwa), Pasuruan, Jawa Timur. Habib Zain merupakan putra Al Habib Hasan Baharun, ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Dalwa.

Kehadiran kedua tokoh tersebut bersama pimpinan yayasan dan para tamu undangan menambah kekhidmatan sekaligus memperkuat nuansa kebangsaan dalam peringatan kemerdekaan di lingkungan pesantren.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Prof. Agus Trihartono, Ph.D., Rektor Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba). Upacara diikuti sekitar 1.062 siswa dan mahasiswa serta 369 guru dan pengurus. Seluruh peserta mengikuti rangkaian upacara dengan tertib dan khidmat.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Para siswa, mahasiswa, guru, dosen, serta ustaz dan ustazah mulai menempati lapangan dan menyusun barisan. Sementara itu, pimpinan yayasan dan tamu undangan menempati tenda VIP sebelum upacara inti dimulai pukul 08.00 WIB.

Kemerdekaan sebagai Amanah Antargenerasi

Dalam amanatnya, Prof. Agus Trihartono mengajak seluruh peserta memaknai kemerdekaan lebih dari sekadar peringatan sejarah. Menurutnya, 81 tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk merefleksikan Indonesia seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia menekankan, generasi hari ini mungkin tidak dapat menentukan Indonesia seperti apa yang diterima dari masa lalu. Namun, setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menentukan Indonesia seperti apa yang akan ditinggalkan bagi generasi mendatang.

READ  Mensos Gus Ipul Sebut Sekolah Rakyat Jangkau Daerah 3T

Dalam konteks pendidikan, Prof. Agus mengingatkan para santri, siswa, dan mahasiswa bahwa kecintaan kepada Indonesia harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Di antaranya dengan belajar sungguh-sungguh, menghormati guru, menjaga persaudaraan, menghargai perbedaan, bekerja keras, serta menggunakan ilmu untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Jangan lelah mencintai Indonesia. Jangan lelah memperbaiki Indonesia,” menjadi salah satu pesan utama dalam amanat tersebut.

Menurut Prof. Agus, nasionalisme tidak cukup hanya dinyatakan melalui kata-kata. Kecintaan terhadap tanah air harus diwujudkan dalam kejujuran, ilmu, kerja keras, keberanian, kepedulian, dan pengabdian.

Pesan tersebut sekaligus menempatkan pendidikan pesantren sebagai ruang strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kecakapan akademik, tetapi juga karakter dan tanggung jawab sosial.

Dari Upacara Menuju Apresiasi Generasi Muda

Setelah upacara inti selesai, rangkaian peringatan dilanjutkan dengan penyerahan apresiasi kepada siswa yang mengikuti berbagai lomba HUT RI yang diselenggarakan Yayasan PP Mabadi’ul Ihsan–Daar Al Ihsan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penampilan kreasi siswa SMP Plus Cordova dan paduan suara. Seluruh rangkaian kegiatan utama ditutup sekitar pukul 10.05 WIB sebelum dilanjutkan dengan agenda lainnya.

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Pesantren Mabadi’ul Ihsan tidak berhenti pada seremoni tahunan. Momentum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan semangat kebangsaan, pendidikan, dan nilai-nilai kepesantrenan dalam satu pesan penting: kemerdekaan harus terus diisi dengan ilmu, karakter, karya, dan pengabdian.

Bagi generasi muda, kemerdekaan bukan hanya tentang apa yang telah diwariskan para pendahulu, tetapi juga tentang apa yang kelak akan mereka wariskan kepada generasi berikutnya.

Sebagaimana refleksi yang disampaikan Prof. Agus Trihartono, Indonesia yang dicintai hari ini bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga amanah yang harus dijaga dan dipersiapkan untuk masa depan. (WMN)