POSTWARTA.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat ekspor komoditas unggas Indonesia mencapai 545 ton dengan nilai Rp18,2 miliar hingga Maret 2026. Capaian ini didorong oleh surplus produksi nasional serta semakin luasnya pasar ekspor.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Indonesia saat ini telah mencapai swasembada protein hewani, khususnya untuk komoditas telur, ayam, dan beras. Pemerintah pun mendorong peningkatan ekspor ke berbagai negara.
“Sekarang ini kita sudah swasembada telur, ayam, beras, dan seterusnya. Kita dorong ekspor ke negara lain,” ujarnya dalam rilis resmi, Sabtu (18/4/2026).
Menurutnya, pasar ekspor unggas Indonesia terus berkembang dengan sekitar 10 negara tujuan. Saat ini, produk unggas nasional telah menembus pasar Singapura, Jepang, dan Timor Leste.
Berdasarkan data Kementan, ekspor didominasi oleh telur konsumsi sebanyak 517 ton atau setara sekitar 8,13 juta butir. Sementara sisanya terdiri dari daging ayam serta produk olahan bernilai tambah.
Kinerja ekspor unggas menunjukkan tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2024, ekspor tercatat sekitar 300 ton dengan nilai Rp10–11 miliar. Angka tersebut meningkat pada 2025 menjadi sekitar 400 ton dengan nilai Rp13–15 miliar. Hingga Maret 2026, ekspor telah mencapai 545 ton senilai Rp18,2 miliar.
Selain peningkatan volume, struktur ekspor juga mulai bergeser ke produk olahan. Produk seperti nugget dan karaage dinilai mampu memberikan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan produk mentah.
Produksi nasional menjadi faktor utama penopang ekspor unggas. Produksi daging ayam mencapai 4,29 juta ton per tahun, dengan tingkat konsumsi sekitar 4,12 juta ton. Sementara produksi telur ayam ras mencapai 6,54 juta ton, dengan konsumsi 6,47 juta ton. Kondisi ini menunjukkan adanya surplus produksi yang dapat diarahkan untuk ekspor.
Untuk menjaga kualitas dan daya saing, Kementan memperkuat sistem kesehatan hewan dan biosekuriti. Sertifikasi veteriner juga terus ditingkatkan guna memenuhi standar internasional.
Selain itu, pemerintah aktif membuka akses pasar baru melalui diplomasi perdagangan. Langkah ini diharapkan mampu memperluas jangkauan ekspor unggas Indonesia ke berbagai negara.
Ke depan, pemerintah menargetkan peningkatan ekspor melalui hilirisasi produk. Upaya ini juga diharapkan dapat menjaga stabilitas harga di tingkat peternak sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor peternakan nasional. (OCY)




