POSTWARTA.COM – Pasar energi global mulai bernapas lega setelah Arab Saudi, eksportir minyak mentah terbesar di dunia, dilaporkan bersiap memulai kembali aktivitas pemuatan (loading) minyak di terminal raksasa Ras Tanura, kawasan Teluk Persia. Langkah strategis ini menjadi momentum krusial bagi pemulihan pasokan energi Timur Tengah pasca-meredanya ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg, dua kapal pengangkut minyak mentah sangat besar (Very Large Crude Carriers/VLCC) milik perusahaan tanker raksasa Saudi, Bahri, terpantau tengah bergerak menuju area pemuatan lepas pantai (single-point moorings) di Ju’aymah. Sementara itu, satu kapal ketiga dilaporkan telah bersandar di dekat area tersebut.
Sebagai catatan, praktis tidak ada aktivitas muatan minyak mentah yang terdeteksi di terminal strategis ini sejak awal Maret lalu akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Selat Hormuz Dibuka, Pasokan Minyak “Banjiri” Pasar
Kembalinya aktivitas di Selat Hormuz memicu “banjir” pasokan minyak ke pasar global. Sebagian besar pasokan tersebut merupakan minyak mentah yang sempat tertahan di dalam Teluk Persia selama masa perang.
Selama konflik berkecamuk, sejumlah produsen minyak di kawasan Teluk sejatinya tetap mengoperasikan kapal tanker mereka melewati jalur rawan tersebut. Namun, demi alasan keamanan, mereka terpaksa mematikan transponder satelit agar tidak terdeteksi. Kini, dengan aktifnya kembali terminal utama Arab Saudi, arus distribusi minyak mentah dari Timur Tengah dipastikan bakal melonjak signifikan.
Untuk diketahui, kompleks Pelabuhan Ras Tanura ditopang oleh tiga fasilitas utama, yakni:
Terminal pemuatan minyak mentah Ju’aymah
Terminal gas minyak cair (LPG) Ju’aymah
Terminal minyak Ras Tanura
Gabungan dari dua fasilitas minyak mentah di kompleks ini memiliki kapasitas masif yang mampu melayani hingga 12 kapal tanker super secara bersamaan.
Pergerakan Armada Tanker “Siluman”
Pergerakan armada Bahri menjadi indikator kuat kembalinya normalisasi jalur pasokan. Beberapa kapal tanker milik Bahri, seperti Zaynah, Amad, dan Qasba, sempat terpantau di radar sedang lego jangkar di luar Selat Hormuz pada Selasa. Kapal-kapal ini kemudian muncul kembali di titik labuh terminal Saudi pada Kamis pekan lalu, setelah sebelumnya menyeberangi Selat Hormuz dalam mode “siluman” atau mematikan sinyal posisi mereka.
Tidak hanya itu, Bahri juga menyiagakan sedikitnya tiga tanker super lainnya di Teluk Oman, tepat di luar Hormuz, dengan beberapa kapal lain yang sedang dalam perjalanan. Hal ini mengindikasikan adanya potensi lonjakan pemuatan minyak tambahan dalam waktu dekat.
Selama perang melanda Iran yang memicu pemangkasan drastis volume minyak di Selat Hormuz, Arab Saudi berhasil memitigasi risiko berkat fleksibilitas infrastrukturnya. Negara kerajaan ini mengalihkan sebagian besar rute ekspornya ke pelabuhan alternatif yang berada di pesisir Laut Merah.
Hingga saat ini, Kementerian Energi Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi terkait pengaktifan kembali terminal Ras Tanura.
Analisis pergerakan kargo oleh Bloomberg ini dilakukan menggunakan kombinasi sinyal posisi kapal otomatis (AIS) serta citra satelit untuk mengevaluasi waktu penambatan kapal di Teluk Persia. Meski citra satelit tidak diambil setiap hari, pergerakan armada ini sudah cukup menjadi sinyal kuat bahwa keran minyak Timur Tengah telah kembali berputar kencang. (HUN)




