POSTWARTA.COM – Bank Indonesia (BI) memberikan jaminan stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang memanas bertepatan dengan periode libur Lebaran 2026. Meskipun pasar keuangan domestik sedang tutup dalam rangka Idulfitri, otoritas moneter tetap memantau ketat pergerakan Rupiah di pasar internasional.
Pengawasan Ketat di Pasar Internasional
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa meskipun aktivitas perbankan dalam negeri jeda sejenak, perdagangan Rupiah di pasar luar negeri (offshore) tetap berjalan dinamis. Fluktuasi global ini menjadi perhatian utama BI karena dampaknya yang langsung bersinggungan dengan ekonomi nasional.
“Sebagai langkah antisipasi terhadap gejolak pasar global yang meningkat akibat konflik Timur Tengah, Bank Indonesia memastikan akan menjaga stabilitas Rupiah sepanjang libur Lebaran 2026,” tegas Destry dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (22/3/2026).
Strategi Bentengi Ekonomi Nasional
Untuk membentengi ekosistem ekonomi dari efek domino perang, BI telah menyiapkan serangkaian instrumen kebijakan moneter. Fokus utamanya adalah memperkuat ketahanan eksternal Indonesia dari kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas.
Tiga Langkah Strategis Bank Indonesia:
1. Intervensi Berlapis: Meningkatkan intensitas intervensi baik di pasar NDF luar negeri (offshore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.
2. Optimalisasi Instrumen Moneter: Menarik aliran masuk modal asing (capital inflow) melalui imbal hasil yang tetap kompetitif.
3. Langkah Penyesuaian Dinamis: Membuka peluang pengambilan kebijakan darurat jika situasi geopolitik di Timur Tengah memburuk secara signifikan.
Optimisme di Tengah Ketidakpastian
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa memburuknya kondisi global saat ini memang memicu tekanan pada mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Namun, ia tetap optimis terhadap kekuatan fundamental ekonomi nasional.
“Bank Indonesia meyakini nilai tukar Rupiah akan stabil, didukung oleh komitmen BI, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” ungkap Perry.
Upaya memperkuat kinerja neraca pembayaran diharapkan menjadi jangkar utama dalam menjaga kepercayaan investor global terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah ke depannya. (OPC)




