BisnisUmum

Telkom Perkuat Transformasi Digital, Bisnis Infrastruktur Resmi Dipisahkan ke InfraNexia

242
×

Telkom Perkuat Transformasi Digital, Bisnis Infrastruktur Resmi Dipisahkan ke InfraNexia

Sebarkan artikel ini

POSTWARTA.COM – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) resmi memperoleh persetujuan pemegang saham independen untuk melakukan pemisahan aset dan bisnis (spin-off) wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).

Persetujuan tersebut diperoleh dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom yang digelar secara daring pada Rabu (30/9/2026). Aksi korporasi ini merupakan transaksi afiliasi yang diatur dalam Peraturan OJK Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan.

Pelaksanaan spin-off tersebut telah memenuhi ketentuan kuorum dari mayoritas pemegang saham independen.

Pembentukan InfraNexia sebagai operating company yang mengelola bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup menjadi bagian dari implementasi strategi TLKM 30. Strategi ini diarahkan untuk mendorong monetisasi aset bernilai tinggi sekaligus membuka peluang kemitraan strategis dan pertumbuhan bisnis.

Langkah tersebut sekaligus memperkuat transformasi Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding melalui model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo) yang berorientasi pada penciptaan nilai serta penguatan sinergi antarentitas secara berkelanjutan.

Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan persetujuan pemegang saham menjadi momentum penting bagi Telkom dalam membangun struktur bisnis yang lebih fokus.

“Atas nama direksi Perseroan, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan yang senantiasa menyertai perjalanan transformasi Telkom. Kepercayaan yang diberikan kepada Telkom atas Spin-Off InfraCo ini menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus, sekaligus memberi ruang dan fleksibilitas bagi InfraNexia untuk berkembang lebih optimal,” ujar Nanang.

Menurutnya, transformasi yang dijalankan Telkom diharapkan memberikan dampak terhadap kinerja dan penciptaan nilai, sekaligus memperbesar kontribusi perusahaan terhadap perkembangan ekosistem digital Indonesia.

Struktur Pengurus Telkom Berubah

Dalam RUPSLB tersebut, pemegang saham juga menyetujui perubahan susunan pengurus Perseroan. Perubahan ini diharapkan dapat memperkuat tata kelola perusahaan sekaligus mendukung agenda transformasi TLKM 30.

READ  LG DUALCOOL AI Air Meluncur, Hadirkan AC Pintar yang Sesuaikan Kondisi Ruangan

Susunan Dewan Komisaris Telkom setelah RUPSLB 2026 yakni:

Komisaris Utama: Angga Raka Prabowo
Komisaris: Ossy Darmawan
Komisaris: Rizal Mallarangeng
Komisaris: Edwin Hidayat Abdullah
Komisaris Independen: Rofikoh Rokhim
Komisaris Independen: Anthony Leong
Komisaris Independen: Deswandhy Agusman
Komisaris Independen: Ira Noviarti

Sementara jajaran Direksi Telkom terdiri dari:

Direktur Utama: Nanang Hendarno
Direktur Enterprise & Business Service: Veranita Yosephine
Direktur Human Capital Management: Willy Saelan
Direktur Keuangan & Manajemen Risiko: Arthur Angelo Syailendra
Direktur Network: Budi Satria Dharma Purba
Direktur Strategic Business Development & Portfolio: Seno Soemadji
Direktur Wholesale & International Service: Radita Ali Putra
Direktur IT Digital: Kharim I. G. Siregar
Direktur Legal & Compliance: Andy Kelana
Telkom dan InfraNexia Tandatangani Akta Spin-Off

Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia menandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) sebagai salah satu milestone penting dalam penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2.

Penandatanganan dilakukan setelah aksi korporasi tersebut memperoleh persetujuan pemegang saham independen Telkom melalui RUPSLB. Akta pemisahan ditandatangani Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno bersama Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf di Telkom Landmark Tower, Jakarta.

Melalui tahapan tersebut, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom resmi dikonsolidasikan ke InfraNexia.

Konsolidasi ini memperkuat skala InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur digital berbasis wholesale dengan jaringan yang membentang di berbagai wilayah Indonesia.

Secara keseluruhan, infrastruktur yang dikonsolidasikan mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, termasuk sekitar 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik. Total nilai transaksi dalam aksi korporasi tersebut mencapai sekitar Rp85,7 triliun.

Nanang mengatakan InfraNexia diarahkan untuk mempertajam fokus bisnis sekaligus meningkatkan produktivitas aset infrastruktur.

READ  Polda Jatim Selidiki Penyebab Kecelakaan Maut di Kawasan Bromo

“Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri,” kata Nanang.

Ia menambahkan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya TelkomGroup membangun bisnis yang semakin fokus dan kompetitif serta meningkatkan penciptaan nilai dari aset-aset strategis yang dimiliki.

InfraNexia Perluas Kolaborasi Ekosistem Digital

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, mengatakan konsolidasi infrastruktur memberikan ruang yang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan sekaligus memperluas kolaborasi dalam ekosistem digital nasional.

“Skala infrastruktur yang semakin besar memberi kami fleksibilitas untuk menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi berbagai kebutuhan pelanggan. Fokus kami bukan hanya memperluas pemanfaatan aset, tetapi memastikan infrastruktur yang kami miliki dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan lebih banyak mitra dan layanan digital,” ujar Seno.

Pasca konsolidasi, InfraNexia mengelola jaringan serat optik yang terhubung melalui infrastruktur darat dan laut. Pengelolaan tersebut didukung empat area, 12 regional, dan 61 distrik yang tersebar di seluruh Indonesia.

Cakupan infrastruktur tersebut menjadi fondasi bagi berbagai sektor, mulai dari operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, data center, hingga pelaku industri lainnya dalam memperluas kapasitas dan jangkauan layanan digital.

InfraNexia Siapkan Infrastruktur Digital untuk Era AI

Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan fase baru perusahaan memperkuat peran InfraNexia dalam mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka, terintegrasi, dan dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai pelaku industri.

“Indonesia membutuhkan AI Ready Infrastructure yang mampu berkembang seiring kebutuhan industri dan teknologi. Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan scalable, kami ingin menghadirkan fondasi yang dapat mendukung pertumbuhan AI, cloud, data center, serta berbagai inovasi digital lainnya di masa depan,” ujar Lukman.

READ  Pemerintah Percepat Penyaluran Beras SPHP, Stok CPP 5 Juta Ton Disiapkan Hadapi El Nino

InfraNexia menjalankan model bisnis berbasis prinsip carrier-neutral dan open-access melalui dua lini utama, yakni Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx.

Portofolio tersebut mencakup layanan konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, hingga pemanfaatan infrastruktur pasif bersama yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas, cakupan, serta model bisnis pelanggan.

Sejalan dengan penguatan skala bisnis, InfraNexia juga mempercepat modernisasi operasi jaringan melalui otomasi, integrasi sistem, serta pengembangan kapabilitas autonomous network.

Transformasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan keandalan layanan, efisiensi operasional, serta kemampuan jaringan dalam merespons permintaan pelanggan yang terus berkembang.

Dengan skala jaringan nasional, model bisnis terbuka, dan pengelolaan yang semakin terintegrasi, InfraNexia memperkuat posisinya sebagai salah satu fondasi infrastruktur bagi pertumbuhan ekosistem digital Indonesia.

“InfraNexia dengan semangat Flowing Through Nusantara merefleksikan bagaimana infrastruktur kami akan terus menghubungkan wilayah, industri, dan berbagai peluang pertumbuhan di seluruh Indonesia,” pungkas Lukman. (TCK)