POSTWARTA.COM – Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan sejumlah agenda dalam rangkaian peringatan Hari Santri 2026. Berbagai kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat peran, kemandirian, serta kontribusi pondok pesantren dalam pembangunan Indonesia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan rangkaian Hari Santri tahun ini juga menjadi momentum syukur atas hadirnya Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren sebagai entitas tersendiri di lingkungan Kementerian Agama.
“Mulai nanti Hari Santri yang akan datang akan ada sejumlah rangkaian, mungkin juga sekaligus tanda syukurnya ini. Tanda syukur akan hadirnya Ditjen Baru di Kementerian Agama,” ujar Nasaruddin dalam Kick Off Hari Santri 2026 di Jakarta, Selasa, 22 September 2026.
Salah satu agenda yang disiapkan adalah media gathering Hari Santri. Menurut Nasaruddin, media memiliki peran penting dalam menyampaikan berbagai program dan penguatan kelembagaan pesantren kepada masyarakat luas.
Ia mengapresiasi keterlibatan wartawan dan media sosial dalam membantu menyosialisasikan program-program Ditjen Pesantren.
“Saya sangat bangga, terima kasih. Ternyata rekan-rekan para wartawan dan media sosial ikut bersemangat mendampingi dan memfasilitasi untuk menyosialisasikan program-program Ditjen Pondok Pesantren ini,” katanya.
Selain media gathering, Kemenag menyiapkan Pesantren Award sebagai bentuk penghargaan kepada berbagai pihak yang dinilai memberikan kontribusi terhadap penguatan pondok pesantren.
Nasaruddin mengatakan penghargaan tersebut dapat diberikan kepada instansi maupun individu, termasuk kepala daerah yang memberikan dukungan terhadap perkembangan pesantren.
“Kita akan memberikan penghargaan-penghargaan tertentu kepada siapa pun, apakah itu instansi atau perorangan. Misalnya Gubernur, Bupati, Walikota, atau siapa pun pihak tertentu yang memberikan kontribusi terhadap penguatan pondok pesantren,” ujarnya.
Menurut Nasaruddin, pemberian penghargaan tersebut juga menjadi bentuk apresiasi dari kalangan pesantren kepada pihak-pihak yang selama ini memberikan dukungan. Ia menilai budaya menghargai kontribusi perlu terus dibangun di lingkungan pesantren.
Perkemahan Santri hingga Santri Preneur
Rangkaian Hari Santri 2026 juga diisi dengan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara yang dijadwalkan berlangsung pada 30 September hingga 6 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut akan mempertemukan santri dari berbagai daerah dalam aktivitas kepramukaan. Nasaruddin berharap kegiatan itu dapat membangun semangat baru sekaligus memperkuat kebersamaan para santri.
“Jadi kita akan kumpul seluruh santri-santri itu, bagaimana dengan entitasnya itu bisa menonjolkan satu semangat baru. Juga sekaligus satu pendekatan lain di dalam melaksanakan kegiatan kepramukaan,” ujar Nasaruddin.
Kemenag juga menyiapkan program Santri Preneur sebagai bagian dari agenda penguatan potensi dan kemandirian santri. Program tersebut diarahkan untuk mendorong pengembangan kemampuan santri, termasuk di bidang kewirausahaan.
Agenda lainnya adalah Halaqah Penguatan Ditjen Pesantren. Kegiatan ini diarahkan untuk menyusun peta jalan pengembangan pondok pesantren ke depan, terutama setelah hadirnya Ditjen Pesantren sebagai entitas tersendiri di Kementerian Agama.
Festival Sarung dan Peci Santri
Kemenag juga akan menggelar Festival Sarung dan Peci Santri. Nasaruddin mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas dan budaya pesantren yang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia.
“Karena salah satu identitas pondok pesantren itu sarung dan peci. Jadi ini akan mengabadikan budaya bangsa kita juga,” ujarnya.
Selain itu, terdapat Ekspo Kemandirian Pesantren yang akan menampilkan berbagai potensi pesantren, mulai dari bidang pendidikan dan intelektual hingga pengembangan kemandirian ekonomi.
Nasaruddin mengatakan ekspo tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan kontribusi pesantren yang tidak hanya bergerak dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki sumber daya di berbagai bidang.
“Kita akan tunjukkan kepada dunia bahwa pondok pesantren bukan hanya bisa Al-Qur’an, bisa baca Barzanji, tetapi intelektualnya juga banyak. Kelas menengah ekonominya juga banyak, jenderalnya juga sudah banyak, diplomatnya juga sudah banyak,” kata Nasaruddin.
Rangkaian kegiatan Hari Santri 2026 kemudian akan dilanjutkan dengan Upacara Hari Santri pada 22 Oktober serta Malam Bhakti Santri.
Melalui rangkaian tersebut, Kementerian Agama berharap peringatan Hari Santri 2026 tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk memperlihatkan kontribusi pesantren sekaligus memperkuat peran santri dalam pembangunan Indonesia. (XKQ)




