BisnisEkonomiUmum

China Siapkan Balasan jika AS Naikkan Tarif Produk Negeri Tirai Bambu

241
×

China Siapkan Balasan jika AS Naikkan Tarif Produk Negeri Tirai Bambu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Istimewa)

POSTWARTA.COM – China menyiapkan langkah balasan terhadap rencana Amerika Serikat (AS) mengenakan tarif tambahan sebesar 7,5 persen terhadap produk asal Negeri Tirai Bambu. Jika kebijakan tersebut benar-benar diterapkan, beban tarif AS terhadap barang-barang China berpotensi meningkat menjadi sekitar 20 persen.

Rencana tersebut berpotensi membuka babak baru ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia. Pemerintah China mengecam kebijakan yang tengah dipertimbangkan Washington sebagai bentuk proteksionisme.

Beijing juga memperingatkan AS agar tidak menggunakan isu kelebihan kapasitas manufaktur atau excess manufacturing capacity sebagai alasan untuk menerapkan kebijakan perdagangan secara sepihak.

“AS telah mempolitisasi isu ekonomi dan perdagangan, yang merupakan tindakan nyata dari unilateralisme dan proteksionisme. China dengan tegas menentang hal ini,” kata Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Huang Ling, dikutip Senin (31/8/2026).

Huang menegaskan Beijing tidak akan tinggal diam apabila Washington meneruskan rencana tersebut. Pemerintah China akan terus memantau perkembangan kebijakan AS dan mempertahankan hak untuk mengambil langkah yang dianggap diperlukan.

“Kami akan terus memantau secara ketat dan mengevaluasi secara menyeluruh langkah-langkah AS selanjutnya, serta mempertahankan hak kami untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan,” ujarnya, melansir Anadolu.

Pernyataan tersebut disampaikan Beijing sebagai respons terhadap laporan bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan tarif tambahan sebesar 7,5 persen terhadap barang impor dari China.

Kebijakan tersebut dikaitkan dengan tudingan Washington mengenai kelebihan kapasitas manufaktur China. Namun, hingga kini besaran tarif final yang akan diterapkan AS belum diputuskan.

Apabila tarif tambahan 7,5 persen diberlakukan, tarif pengganti atau replacement tariff AS terhadap produk China yang saat ini berada di level 12,5 persen akan meningkat menjadi sekitar 20 persen.

Persoalan Kelebihan Kapasitas

READ  Gibran Tinjau Pembangunan Tol Prosiwangi, Targetkan Perkuat Konektivitas dan Dongkrak Ekonomi Jawa Timur

Isu kelebihan kapasitas industri menjadi salah satu titik panas terbaru dalam hubungan dagang AS-China. Washington menilai kapasitas produksi China yang berlebihan berpotensi menimbulkan distorsi perdagangan dan membanjiri pasar global dengan produk berharga lebih murah.

Pada Maret 2026, Kantor Perwakilan Dagang AS atau US Trade Representative (USTR) merilis hasil investigasi berdasarkan Section 301 yang menyoroti praktik manufaktur China serta 15 negara mitra ekonomi lainnya.

Investigasi tersebut tidak hanya menyasar China, tetapi juga sejumlah mitra dagang AS, termasuk Indonesia, Uni Eropa, Jepang, India, Korea Selatan, Vietnam, Malaysia, dan Thailand.

China menolak hasil investigasi tersebut, terutama tudingan mengenai kelebihan kapasitas industri. Beijing berpendapat kapasitas produksi tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan perbandingan antara produksi dengan tingkat konsumsi domestik.

Pemerintah China menilai kapasitas industri harus dilihat dalam konteks yang lebih luas dengan mempertimbangkan kondisi produksi dan permintaan di pasar global. Dengan demikian, tingkat produksi yang lebih tinggi dibandingkan konsumsi domestik tidak secara otomatis dapat dikategorikan sebagai excess capacity.

Risiko Eskalasi Perang Dagang

Ancaman pembalasan dari Beijing menambah tekanan terhadap hubungan perdagangan AS-China yang dalam beberapa tahun terakhir terus diwarnai kebijakan tarif dan pembatasan perdagangan.

Jika Washington benar-benar menaikkan tarif hingga sekitar 20 persen, pelaku usaha dan rantai pasok global kembali menghadapi risiko meningkatnya biaya perdagangan.

Kebijakan tersebut juga berpotensi mendorong China mengambil tindakan balasan terhadap produk maupun kepentingan bisnis AS. Dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor yang memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok kedua negara.

Bagi pasar global, perkembangan ini menunjukkan bahwa sengketa AS-China tidak lagi hanya berkutat pada besaran tarif. Perselisihan telah berkembang ke isu yang lebih luas, mulai dari kapasitas manufaktur, daya saing industri, hingga dominasi rantai pasok global.

READ  Reshuffle Menteri Keuangan Tekan IHSG, Pasar Tunggu Kejelasan Kebijakan Purbaya.

Dengan Beijing telah membuka opsi untuk mengambil “semua tindakan yang diperlukan”, keputusan final Washington terkait tarif tambahan 7,5 persen akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah hubungan dagang kedua negara.

Kebijakan tersebut dapat menjadi pemicu meningkatnya kembali ketegangan perdagangan AS-China atau, sebaliknya, membuka ruang bagi kedua negara untuk meredakan perselisihan melalui negosiasi. (VQL)