POSTWARTA.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka peluang penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, mulai bulan depan apabila tren pelemahan harga minyak dunia terus berlanjut. Pemerintah saat ini masih menghitung dampak perubahan harga minyak global terhadap formula penetapan harga BBM sebelum mengambil keputusan.
Bahlil mengatakan pembahasan terkait kemungkinan penyesuaian harga akan dilakukan bersama PT Pertamina (Persero) serta sejumlah badan usaha penyedia BBM swasta.
“Kita akan melihat. Saya sudah menghitung dan akan melakukan rapat dengan badan usaha dari Pertamina maupun beberapa badan usaha lain. Ketika harga minyak dunia turun, kita akan menyesuaikan,” kata Bahlil, dikutip Rabu (22/7/2026).
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai membuka ruang penurunan harga Pertamax yang hingga kini masih bertahan di level Rp16.250 per liter. Padahal, beberapa jenis BBM nonsubsidi lainnya sebelumnya telah mengalami penyesuaian harga.
Menurut Bahlil, pemerintah tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan karena pergerakan Indonesian Crude Price (ICP) masih berfluktuasi. Dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak dunia mengalami perubahan yang cukup dinamis sehingga pemerintah memilih menunggu tren yang lebih stabil sebelum menetapkan kebijakan.
“Kadang-kadang harga ICP hari ini naik, besok turun, kemudian naik lagi. Dalam kondisi seperti ini kita mencari formulasi yang bijak, yang tidak memberatkan masyarakat pengguna BBM nonsubsidi, tetapi juga tidak memberatkan pelaku usaha di sektor perminyakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan pengguna BBM nonsubsidi hanya sekitar 20 persen dari total konsumen BBM nasional. Meski sebagian besar berasal dari kelompok masyarakat dengan daya beli lebih tinggi, pemerintah tetap berupaya menjaga keseimbangan agar harga mencerminkan kondisi pasar sekaligus tidak membebani konsumen maupun badan usaha.
Di sisi lain, Bahlil memastikan pemerintah tidak memiliki rencana menaikkan harga BBM bersubsidi. Bahkan, pemerintah telah meminta Pertamina dan badan usaha swasta untuk mulai menyiapkan skenario penyesuaian harga sejumlah produk BBM apabila tren penurunan harga minyak dunia terus berlanjut.
“Tentu kita memastikan bahwa BBM subsidi tidak ada kenaikan sama sekali. Bahkan ada potensi beberapa jenis BBM mengalami penyesuaian apabila harga minyak dunia terus turun,” katanya.
Selain membahas harga BBM, Bahlil juga melaporkan kondisi ketahanan energi nasional kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia memastikan stok BBM nasional saat ini berada di atas batas minimum operasional dan pasokan minyak mentah untuk kebutuhan domestik dipastikan aman hingga akhir tahun.
“Saya melapor bahwa kondisi stok BBM kita di atas standar minimum. Kemudian kerja sama pengadaan crude juga sudah clear sehingga insyaallah sampai akhir tahun tidak ada masalah,” ujarnya.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga menetapkan harga Pertamax (RON 92) sebesar Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026 berdasarkan evaluasi formula harga BBM yang berlaku. Pada penyesuaian harga per 1 Juli 2026, Pertamina telah menurunkan harga Pertamax Turbo dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter, Dexlite dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter, serta Pertamina Dex dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter. Namun, harga Pertamax belum mengalami perubahan.
Dengan adanya sinyal dari pemerintah tersebut, pelaku pasar dan masyarakat kini menantikan hasil evaluasi harga BBM pada awal bulan depan. Jika tren pelemahan harga minyak dunia berlanjut, Pertamax berpeluang menjadi produk berikutnya yang mengalami penyesuaian harga. (TAQ)




