Umum

Tradisi Kebo-keboan Alasmalang Banyuwangi Meriah, Ribuan Pengunjung Tumpah Ruah

292
×

Tradisi Kebo-keboan Alasmalang Banyuwangi Meriah, Ribuan Pengunjung Tumpah Ruah

Sebarkan artikel ini

POSTWARTA.COM – Ribuan warga dan wisatawan memadati Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi pada Minggu (28/6/2026). Mereka hadir untuk menyaksikan langsung kemeriahan ritual adat Kebo-keboan Alasmalang, sebuah tradisi turun-temurun yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa memohon kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah.

Rangkaian ritual sakral masyarakat agraris ini diawali dengan kenduri desa, di mana warga makan bersama menggunakan hidangan tumpeng dan lauk khas Banyuwangi, Pecel Pithik. Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan ider bumi, yaitu arak-arakan puluhan “kerbau” mengelilingi desa menuju empat penjuru mata angin.

Namun, “kerbau” yang dimaksud bukanlah hewan ternak asli, melainkan para warga setempat yang berdandan menyerupai kerbau. Tubuh mereka dilumuri jelaga hingga berwarna hitam pekat, lengkap dengan aksesori tanduk di kepala serta gelang kerincing di tangan dan kaki.

Cerminan Komitmen Merawat Kearifan Lokal
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa kelestarian tradisi Kebo-keboan mencerminkan komitmen kuat masyarakat dalam merawat kearifan lokal di tengah era modernisasi.

“Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun. Warga melestarikannya secara turun-temurun. Saya menyampaikan apresiasi kepada sesepuh adat, budayawan, pemuda Alasmalang, dan seluruh pihak yang menjaga nyala tradisi tetap hidup,” tutur Ipuk.

Ipuk menambahkan, Kebo-keboan bukan sekadar tontonan, melainkan budaya yang membentuk karakter masyarakat. Nilai kerja keras, gotong royong, dan disiplin yang terkandung di dalamnya dinilai sangat sejalan dengan semangat “Tandang Bareng” yang menjadi filosofi pembangunan di Kabupaten Banyuwangi.

Atraktif dan Pikat Wisatawan Mancanegara
Prosesi Kebo-keboan berlangsung sangat atraktif dan dinamis. Sepanjang rute arak-arakan, para peserta yang berperan sebagai “kerbau” bertingkah layaknya hewan penarik bajak tersebut; mereka berkubang, bergumul di lumpur, hingga berguling-guling dengan perut terikat tali.

READ  Lion Group Rencanakan Rute Baru Banyuwangi–Lombok dan Kuala Lumpur

Keunikan teatrikal budaya ini sukses menarik perhatian wisatawan mancanegara. Salah satunya adalah Tara, turis asal Amerika Serikat, yang sengaja datang ke Alasmalang setelah sebelumnya mendaki Gunung Ijen.

“Ini sangat unik. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Menakjubkan,” ujar Tara dengan nada kagum.

Bawa Berkah Ekonomi bagi UMKM
Selain menjadi magnet pariwisata, gelaran budaya ini juga membawa berkah ekonomi bagi para pelaku usaha kecil dan mikro (UMKM) di sekitar lokasi acara.

Siti, salah seorang pemilik warung di kawasan acara, mengaku meraup untung berlipat ganda selama ritual berlangsung karena dagangannya ludes diserbu pengunjung.

“Mulai minuman sampai camilan semuanya laris. Alhamdulillah,” ucap Siti semringah.

Sekilas Sejarah Kebo-keboan
Tradisi Kebo-keboan diperkirakan telah eksis sejak abad ke-18 Masehi. Ritual ini berawal dari kisah Buyut Karti yang mendapatkan wangsit untuk menggelar upacara bersih desa dengan cara menjelma menjadi kerbau, sebagai simbol permohonan keselamatan dan kesuburan untuk tanaman padi warga.

Selain lestari di Desa Alasmalang (Kecamatan Singojuruh), tradisi serupa dengan karakteristik uniknya sendiri juga masih dirawat oleh masyarakat di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. (PDQ)