BisnisUmum

PGN Gagas Paparkan Strategi Pemanfaatan Biocng untuk Transportasi dan Industri dalam Mendukung Ketahanan Energi Nasional

362
×

PGN Gagas Paparkan Strategi Pemanfaatan Biocng untuk Transportasi dan Industri dalam Mendukung Ketahanan Energi Nasional

Sebarkan artikel ini

POSTWARTA.COM – PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), anak perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. yang merupakan bagian dari Subholding Gas PT Pertamina (Persero), menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan energi terbarukan melalui pemanfaatan biometana atau BioCNG di Indonesia.

Komitmen tersebut disampaikan dalam ajang Diseminasi Pengembangan Biometana di Indonesia yang digelar Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Grand City Hall Hotel, Medan. Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, hingga pelaku sektor energi terbarukan guna memperkuat ekosistem biometana nasional.

Dalam kesempatan tersebut, PGN Gagas memaparkan peran strategis perusahaan dalam pengembangan dan distribusi BioCNG untuk sektor transportasi, industri, serta komersial sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menjelaskan bahwa biometana merupakan biogas yang telah dimurnikan hingga memiliki kandungan metana tinggi, mencapai 90 hingga 95 persen. Dengan spesifikasi tersebut, biometana memiliki kualitas setara gas bumi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar bagi berbagai sektor.

Menurut Santiaji, pengalaman lebih dari satu dekade dalam bisnis gas bumi terkompresi menjadi modal penting bagi PGN Gagas untuk berperan sebagai penghubung antara potensi biometana di sisi hulu dengan kebutuhan energi di sisi hilir.

“Kami berperan sebagai agregator, offtaker, dan distributor biometana dengan memanfaatkan pengalaman, aset, dan basis pelanggan yang telah kami miliki,” ujar Santiaji.

Ia menjelaskan, kesiapan PGN Gagas didukung oleh empat fondasi utama, yakni kompetensi dalam kompresi dan penanganan gas bertekanan, armada virtual pipeline melalui Gas Transport Module (GTM), jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang tersebar di berbagai wilayah, serta basis pelanggan industri dan komersial yang dapat menjadi offtaker biometana.

READ  ESDM Lebarkan Pipa Gas Cisem: Bandung, Yogyakarta Masuk Rencana!

Sumatera Utara dinilai sebagai salah satu wilayah strategis untuk pengembangan BioCNG karena memiliki potensi bahan baku atau feedstock yang besar. Salah satunya berasal dari Palm Oil Mill Effluent (POME), yakni limbah cair hasil pengolahan kelapa sawit yang secara nasional diperkirakan mencapai sekitar 100 juta ton per tahun.

Pemanfaatan POME menjadi BioCNG dinilai mampu memberikan berbagai manfaat, mulai dari pengurangan ketergantungan terhadap energi impor melalui pemanfaatan sumber energi domestik yang terbarukan, pengurangan emisi metana yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih tinggi dibanding karbon dioksida, hingga menciptakan nilai tambah dari limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Selain itu, BioCNG juga dinilai memiliki keunggulan dalam menjangkau wilayah yang belum terhubung dengan jaringan pipa gas sehingga dapat memperluas akses energi bersih ke berbagai daerah.

Meski demikian, Santiaji mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi bersama agar pengembangan biometana dapat berjalan optimal. Tantangan tersebut meliputi konsistensi pasokan dan kualitas bahan baku, standardisasi spesifikasi biometana, kepastian pasar dan keekonomian proyek, aspek logistik dan pembiayaan, hingga kebutuhan regulasi yang mengatur harga, sertifikasi green gas, serta berbagai bentuk insentif.

Karena itu, PGN Gagas mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pemilik sumber bahan baku, lembaga pembiayaan, otoritas karbon, dan sektor industri sebagai pengguna akhir, untuk membangun ekosistem biometana yang sehat dan berkelanjutan.

“Kami siap menjadi penghubung antara potensi biometana di hulu dan kebutuhan energi masyarakat di hilir dengan infrastruktur dan pelanggan yang sudah kami miliki. Dari limbah, kita ubah menjadi energi untuk negeri,” tegas Santiaji.

Komitmen PGN Gagas dalam mengembangkan distribusi gas beyond pipeline di Sumatera juga diwujudkan melalui pembangunan Mother Station (MS) Medan yang mulai dikerjakan sejak 2025. Infrastruktur tersebut diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan gas terkompresi (CNG) di wilayah Sumatera Utara sekaligus dipersiapkan sebagai titik integrasi distribusi BioCNG di masa depan.

READ  Harga Batu Bara Jatuh Usai Menguat Tiga Hari, Permintaan China Turun.

Dengan keberadaan MS Medan, PGN Gagas optimistis dapat memperkuat rantai nilai BioCNG dari sektor hulu hingga hilir serta mempercepat pemanfaatan energi terbarukan yang berasal dari sumber daya domestik untuk mendukung transisi energi nasional. (VCQ)