POSTWARTA.COM – Pemerintah Indonesia terus mempertegas komitmennya dalam memperkuat struktur industri nasional melalui kebijakan hilirisasi. Setelah melarang ekspor bauksit, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah kini tengah mengkaji penghentian ekspor timah dalam bentuk mentah.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri sekaligus mempercepat kedaulatan energi.
“Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Tahun ke depan, kita akan mengkaji beberapa komoditas lain, termasuk timah. Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri,” tegas Bahlil di Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Belajar dari Kesuksesan Nikel
Bahlil memberikan gambaran nyata keberhasilan hilirisasi pada komoditas nikel. Sebelum pelarangan ekspor bijih nikel diberlakukan pada 2018-2019, nilai ekspor nikel Indonesia hanya berkisar US$ 3,3 miliar. Namun, setelah kebijakan hilirisasi berjalan penuh, angka tersebut melonjak drastis.
Pada tahun 2024, nilai ekspor nikel tercatat menembus US$ 34 miliar, atau meningkat sepuluh kali lipat hanya dalam waktu lima tahun. Keberhasilan inilah yang menjadi pijakan pemerintah untuk memperluas kebijakan serupa ke komoditas mineral lainnya.
Prioritas Nasional dan Investasi Raksasa
Hilirisasi kini telah menjadi proyek strategis nasional. Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional tahun 2026 dengan total nilai investasi mencapai Rp 618 triliun. Proyek-proyek ini mencakup:
1. Hilirisasi nikel dan bauksit.
2. Gasifikasi batu bara.
3. Pembangunan kilang minyak.
Pemerintah menargetkan produk-produk hilir ini dapat menjadi substitusi impor untuk memperkuat pasar domestik (captive market). Bahlil juga mendorong perbankan nasional untuk lebih berani membiayai proyek-proyek ini agar nilai tambah ekonomi tidak dikuasai oleh pihak asing.
Proyeksi Ekonomi hingga 2040
Program hilirisasi jangka panjang diproyeksikan akan membawa dampak masif bagi perekonomian Indonesia hingga tahun 2040:
– Total Investasi: Diperkirakan mencapai US$ 618 miliar (dominasi sektor mineral & batubara sebesar US$ 498,4 miliar).
– Nilai Ekspor: Berpotensi menghasilkan US$ 857,9 miliar.
– Dampak PDB: Memberikan tambahan Produk Domestik Bruto sebesar US$ 235,9 miliar.
– Lapangan Kerja: Mampu menyerap lebih dari 3 juta tenaga kerja.
Ketahanan Energi
Selain fokus pada mineral, Kementerian ESDM juga terus mendorong agenda swasembada energi. Upaya yang dilakukan meliputi peningkatan lifting minyak, optimalisasi sumur-sumur tua, hingga pemberian ultimatum kepada pemegang wilayah kerja (WK) yang belum produktif agar segera merealisasikan investasinya.
“Hilirisasi adalah instrumen utama transformasi ekonomi. Ini adalah dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata dan menciptakan lapangan pekerjaan,” pungkas Bahlil. (BOT)




