Umum

Cegah Banjir dan Longsor, JTI Indonesia Gandeng Komunitas Hijaukan Kawasan Putuk Elang

362
×

Cegah Banjir dan Longsor, JTI Indonesia Gandeng Komunitas Hijaukan Kawasan Putuk Elang

Sebarkan artikel ini

POSTWARTA.COM – Japan Tobacco International (JTI) Indonesia bersama para pegiat dan komunitas pecinta lingkungan di wilayah Pasuruan dan sekitarnya menggelar aksi penanaman pohon serta pembuatan rorak di kawasan hutan lereng Gunung Arjuna, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini menjadi langkah antisipatif menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus upaya mencegah terbentuknya lahan kritis di kawasan resapan air.

Factory Lead JTI Indonesia, Reza Safarzadeh, mengatakan aksi tanam pohon dan pembuatan rorak tersebut merupakan inisiatif lanjutan program Tandur Banyu yang telah dijalankan JTI Indonesia sejak 2022. Program ini berfokus pada konservasi air dan keberlanjutan sumber mata air di lereng Gunung Arjuna.

“Aksi bersama tanam pohon dan pembuatan rorak ini bertujuan menjaga keberlanjutan sumber mata air di lereng Gunung Arjuna. Kawasan ini memiliki peran strategis bagi ekosistem hayati dan menjadi daerah tangkapan air yang memasok berbagai wilayah di Jawa Timur,” ujar Reza, Minggu (25/1).

Ia menjelaskan, tantangan utama kawasan resapan saat ini adalah menurunnya debit dan kuantitas sumber air baku akibat perubahan iklim global. Pola cuaca yang semakin tidak menentu, dengan musim hujan yang singkat namun berintensitas tinggi serta musim kemarau yang semakin panjang, berpotensi meningkatkan risiko banjir, longsor, dan kekeringan di wilayah hilir Kabupaten Pasuruan.

Menurut Reza, berbagai aktivitas masyarakat di daerah hilir—mulai dari kebutuhan rumah tangga, pertanian, peternakan, industri hingga pariwisata—sangat bergantung pada kesehatan ekosistem hutan di wilayah hulu. Kondisi tersebut mendorong JTI Indonesia terus memperkuat kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kawasan Gunung Arjuna.

Sejak diluncurkan, program Tandur Banyu telah menanam dan merawat lebih dari 7.000 tanaman endemik bersama komunitas perhutanan sosial dan pecinta lingkungan di Pasuruan, khususnya di lereng Gunung Arjuna. Selain penanaman, kegiatan juga mencakup penguatan manajemen pengelolaan hutan serta pembuatan rorak guna menjaga vegetasi dan daya serap tanah.

READ  Banyuwangi Lakukan Ekskavasi Situs Macan Putih Warisan Kerajaan Blambangan

Sebagai bentuk dukungan lanjutan, JTI Indonesia bersama Baskomas dan Alliance for Water Stewardship pada Desember 2025 lalu juga menginisiasi forum kolaborasi antarkomunitas dan pemangku kepentingan. Forum ini melibatkan unsur pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat untuk menjaga kelestarian air serta membangun ekosistem berkelanjutan di Pasuruan.

Sekretaris Daerah Kabupaten Pasuruan, H. Yudha Tri Sasongko, menyampaikan apresiasi atas komitmen JTI Indonesia dan komunitas lingkungan dalam menjaga kawasan hulu Gunung Arjuna. Ia menegaskan bahwa upaya pelestarian lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

“Menjaga ekosistem harus dilakukan secara bersama oleh semua pihak. Kami mengapresiasi kolaborasi komunitas dan dunia usaha di kawasan Putuk Elang Pasuruan. Bersama Pemkab Pasuruan, kami berharap rehabilitasi dan konservasi ini memberi manfaat bagi masyarakat hulu maupun hilir,” ujarnya.

Yudha menambahkan, penurunan kapasitas infiltrasi dan meningkatnya limpasan air di wilayah hulu dapat memicu beragam bencana, mulai dari penurunan debit mata air, banjir, longsor, hingga kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum. Karena itu, kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci dalam upaya mitigasi bencana.

Ia juga berpesan agar dunia usaha dan komunitas tetap konsisten melakukan rehabilitasi dan konservasi lingkungan, meskipun hasilnya tidak dapat dirasakan dalam waktu singkat. “Apa yang kita lakukan hari ini adalah investasi untuk anak-anak kita di masa depan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Tani Organik Sumadi sekaligus pengelola perhutanan sosial di lereng Gunung Arjuna, Nurhidayat, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin dengan JTI Indonesia.

“Selain penanaman, kami juga mendapat dukungan dalam pengelolaan pariwisata berbasis komunitas. Ke depan, akan ada riset dan kajian ekologi di kawasan Putuk Elang untuk memperkuat upaya pelestarian lingkungan,” ujarnya. (YBZ)